Migrain “Berjalan Lambat”

Penderita Migrain Kerap Merasa Waktu Berjalan Lebih Lambat

Jakarta, Orang yang memiliki migrain mungkin merasa waktu berjalan sedikit lebih lambat dari yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena migrain mempengaruhi pengolahan pikiran pada otak penderitanya.

Perbedaan persepsi waktu tersebut sangat halus karena tolak ukurnya sepersekian milidetik. Tetapi penemuan ini dapat membantu memvalidasi keluhan umum dari penderita migrain berulang yang merasa tidak dapat memproses informasi dengan jelas ketika migrainnya kambuh.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa orang dengan migrain memperkirakan bahwa objek yang muncul dalam 600 milidetik disadari pada waktu rata-rata 1,2 detik. Sedangkan kelompok non-migrain memberi perkiraan sekitar 0,9 detik.

"Perbedaan ini sangatlah kecil dan halus, tetapi temuan ini dapat mendukung gagasan bahwa migrain memang dapat mempengaruhi fungsi kognitif seseorang," tulis Kai Wang dan tim peneliti dari Anhui Medical Center di Hefei, Cina.

Dr Jennifer Kriegler, seorang profesor neurologi di Cleveland Clinic Lerner College of Medicine juga menyutuji hal tersebut karena kebanyakan orang yang memiliki migrain melaporkan bahwa ketika penderita berada pada tahapan migrain yang parah, dirinya seperti berkabut dan tidak dapat memproses informasi dengan jelas.

"Studi persepsi waktu pada penderita migrain ini sangat kecil, tetapi menunjukkan hasil yang signifikan bahwa perasaan berkabut pada penderita migrain bukan hanya disebabkan oleh rasa sakit, tetapi karena perbedaan dalam pengolahan otak," kata Kriegler.

Migrain biasanya menyebabkan sensasi berdenyut hebat di satu daerah kepala, ditambah kepekaan terhadap cahaya dan suara, dan bahkan mual atau muntah pada beberapa kasus.

Sekitar 30 persen penderita migrain berulang juga mengalami gangguan sensori sesaat sebelum sakit kepala. Gangguan sensori biasanya dirasakan secara visual, seperti melihat kilatan cahaya atau penglihatan berbintik-bintik.

Penyebab migrain belum sepenuhnya jelas, tetapi tampaknya melibatkan aktivitas otak yang abnormal. Seperti studi tersebut yang mengaitkan migrain dengan perbedaan dalam memori, waktu reaksi dan beberapa kemampuan kognitif lainnya.

Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Headache edisi bulan Agustus, seperti dilansir foxnews, Senin (6/8/12).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *